Untuk mendapatkan IUJPTL, pastikan tenaga ahli Anda telah mengikuti Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Ahli Teknik Listrik. | Ayo konsultasikan cara memenuhi persyaratan & proses SKUP MIGAS agar bisa TERBIT sesuai bidang & Tender Anda. | Permintaan perizinan yang marak minggu ini : IUJP (Izin Usaha Jasa Pertambangan ) & SKT EBTKE (Energi Baru Terbarukan)

Pertamina Geothermal Energy mulai EPCC PLTP anyar di Sulawesi Utara

Diterbitkan pada Hari Jumat, 09 Juli 2021

Pertamina Geothermal Energy mulai EPCC PLTP anyar di Sulawesi Utara

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memulai EPCC (Engineering Procurement Construction & Commissioning) untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Binary Organic Rankine Cycle. 

PLTP ini memiliki kapasitas 500 kW, yang akan dibangun di lokasi PGE Area Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara. Proyek ini ditargetkan akan terlaksana 100% dan siap dioperasikan pada Desember 2021 ini. 

PGE melaksanakan Kick Off Meeting EPCC proyek tersebut pada Kamis 1 Juli 2021 secara daring. 

Direktur Operasi PGE Eko Agung Bramantyo didampingi General Manager Area Lahendong Chris Toffel A.E.P dalam kesempatan tersebut menyampaikan kesiapan dan kemampuan PGE dalam mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dimana sekaligus menunjang Green Energy serta Cost Saving terhadap OPEX sebagai implementasi milestone proyek strategis EBT Internal Pertamina dan total kapasitas power terpasang dari EBT lainnya.

Baca Juga: Pertamina Geothermal mulai pengembangan green hydrogen di WKP Ulubelu

“Meskipun dalam kondisi pademi Covid-19 tidak menyurutkan semangat inovasi dan pengabdian para Perwira Pertamina dalam pengembangan energi panas bumi Indonesia. Ini adalah wujud nyata komitmen PGE untuk memanfaatkan potensi energi dalam negeri yang ramah lingkungan khususnya energi panas bumi karena sifatnya yang baru terbarukan,” terang Eko Agung dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Sabtu (3/7). 

Adapun instalasi pembangkit Binary berkapasitas 1 x 500 kW Net ini direncanakan menggunakan fluid kerja R1233zd(E) yaitu refrigerant non-flammable yang ramah lingkungan. 

Proyek ini ditargetkan akan terlaksana 100% dan siap dioperasikan pada Desember 2021 ini. Proyek ini dijalankan dengan skema Quick Win untuk mencapai Fast Delivery Project. 

Skema ini dilakukan oleh PGE untuk menyiasati pelaksanaan proyek di tengah kondisi pandemi agar tetap On Time, On Budget, On Scope, On Revenue (OTOBOSOR).

Pertamina sendiri sebagai pionir pengembangan panas bumi di Indonesia, yang kemudian dilanjutkan oleh PGE, telah mempunyai pengalaman 35 tahun dalam pengoperasian lapangan panas bumi. 

Sebagai informasi saja, saat ini Indonesia berada pada rangking kedua pengembangan panas bumi di dunia dengan total kapasitas terpasang sebesar 2.133 MW, dan kontribusi dari Wilayah Kerja PGE sebesar 88% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, yang terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri dan 1.205 MW yang dilaksanakan melalui Kontrak Operasi Bersama. 

Baca Juga: Pertamina Power Indonesia cetak laba US$ 14 juta di tahun lalu

Dari 672 MW yang dioperasikan sendiri oleh PGE, dibangkitkan dari 6 Area yaitu Area Lahendong – Sulawesi Utara dengan kapasitas terpasang sebesar 120 MW, Area Kamojang – Jawa Barat dengan kapasitas terpasang sebesar 235 MW, Area Ulubelu - Lampung dengan kapasitas terpasang sebesar 220 MW. 

Lalu ada Area Karaha – Jawa Barat dengan kapasitas terpasang sebesar 30 MW, Area Lumut Balai – Sumatra Selatan dengan kapasitas terpasang sebesar 55 MW dan Area Sibayak – Sumatra Utara dengan kapasitas terpasang sebesar 12 MW.