Diterbitkan pada Hari Kamis, 07 November 2019

JAKARTA – Pemerintah telah berkomitmen untuk melaksanakan Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang telah diratifikasi ke dalam Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2016 dengan komitmen menurunkan emisi karbon sampai 29% pada 2030. Program ini juga merupakan bagian dari upaya di seluruh dunia dalam melaksanakan transisi energi menuju energi emisi rendah karbon.

Surya Dharma, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), mengatakan energi terbarukan menjadi masa depan bagi penggunaan energi secara global.

“Hingga akhir 2018, energi terbarukan hanya menyumbang 8,6% dalam bauran energi nasional. Kami akan terus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan menuju 23% pada 2025 dan menjadi 30% pada 2050,” kata Surya Dharma dalam acara pameran dan konferensi di bidang energi terbarukan, Indo EBTKE Conex 2019, di JIEXPO Kemayoran Jakarta Rabu (6/11).

Menurur Surya, Indo EBTKE Conex merupakan kegiatan rutin Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia sebagai upaya untuk terus mendorong dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan energi terbarukan. Agenda tahunan ini menjadi ajang bertukar pengetahuan dan teknologi terkait energi terbarukan di Indonesia dan dunia.

Kegiatan Indo EBTKE ConEx 2019 tahun ini dibuka secara resmi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif.

Menurut Arifin, Indo EBTKE Conex 2019 sangat bermanfaat dalam  menentukan arah pemanfaatan energi nasional jangka panjang.

“Kita memiliki banyak sumber-sumber energi yang harus kita utilisasi, seperti geo-thermal, sumber daya air, dan lain-lain. Sumber-sumber energi di Indonesia kurang lebih ada 400 Giga Watt dan terealisasi baru sekitar 8% atau 32 gigawatt (GW),” ujar Arifin.

Dia juga menekankan pentingnya mensosialisasikan program-program energi baru terbarukan kepada masyarakat untuk meningkatkan dukungan masyarakat akan hadirnya energi bersih. Keterlibatan masyarakat diharapkan akan mendorong dan memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia.

Tahun ini gelaran Indo EBTKE Conex 2019 mengusung tema “Energy Transition Towards Sustainable Energy Era”. Tema ini diambil untuk menegaskan transisi pemanfaatan energi dari energi fosil ke energi terbarukan yang bisa terus digunakan. Penggunaan energi yang besar memerlukan sumber-sumber energi berkelanjutan untuk memastikan keamanan pasokan energi. Hal ini bisa dipenuhi oleh sumber energi terbarukan mengingat energi fosil lambat laun akan menipis dan hilang. Selain itu, penggunaan energi terbarukan akan bisa mengurangi jejak karbon demi kebaikan generasi mendatang.

Selain pameran dan konferensi, Indo EBTKE Conex 2019 juga diisi dengan berbagai program lain seperti Scientific Paper and Poster competition, Training, dan Young Renewable Energy Innovation. Indo EBTKE Conex 2019 menargetkan bisa menarik 4.500 pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri seperti dari Eropa, Asia, Afrika, Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada.

Indonesia sendiri memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Sumber energi terbarukan di Indonesia bisa dikategorikan ke dalam enam kluster yaitu panas bumi, air, angin, bio energi, matahari, dan laut. Sumber energi panas bumi di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 300 titik di seluruh Indonesia. Cadangan panas bumi di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Bila seluruh potensi sumber energi terbarukan bisa dimanfaatkan dengan baik, diharapkan Indonesia bisa memenuhi kebutuhan energi secara maksimal.

“Indo EBTKE Conex 2019 merupakan upaya untuk mendukung upaya peningkatan dan pengembangan energi terbarukan melalui berbagai aspek, terutama dalam pengembangan potensi sumber-sumber energi terbarukan yang ada di Indonesia,” tandas Surya.(RA)

Source : dunia-energi.com

Reposted by SP 07/11/2019