Kepada Supplier/Pemasok Barang dan Jasa, MAU MENANG TENDER?Segera Proses KTA & SERKOM KADIN disini!! hubungi : 0813-1500-0380 (Djesha) 

Bagaimana Aturan Membangun Jembatan?

Diterbitkan pada Hari Selasa, 05 Juli 2022

Bagaimana Aturan Membangun Jembatan?

Jembatan adalah infrastruktur penting yang dibutuhkan untuk menghubungkan dua wilayah. Terdapat berbagai jenis jembatan dengan bahan dan kemampuan yang berbeda-beda. Misalnya, jembatan yang bisa menahan beban kendaraan atau yang hanya bisa digunakan untuk pejalan kaki. Namun demikian, setiap jenis jembatan tidak boleh dibangun secara asal. Terdapat aturan yang harus dipenuhi agar jembatan bisa memberikan keamanan kepada penggunanya. Adapun aturan ini telah tercantum dalam Buku Saku Petunjuk Konstruksi Jembatan 2021 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Survei lapangan Survei lapangan merupakan suatu keharusan dalam perencanaan jembatan, meskipun lokasi telah diperoleh karena tak jarang kondisi lapangan kurang sesuai dengan perencanaan. Hal yang harus didapatkan melalui survei lapangan adalah kondisi situasi penampang sungai yang dilewati jalan atau rencana jalan, rencana posisi jembatan, pengukuran lebar sungai untuk bentang jembatan, data tinggi air maksimum ketika banjir hingga harga material. Daya dukung tanah Daya Dukung Tanah (DDT) dihitung untuk mengetahui data besaran beban yang bisa diterima oleh jembatan. Selain itu, DDT juga perlu dicari untuk menghitung dan merencanakan dimensi dan jenis pondasi guna mendukung beban struktur jembatan dan bebas yang melintas.

Perhitungan DDT bisa dilakukan dengan pengujian lapangan dan laboratorium melalui metode Boring/Standard Penetration Test (SPT), Sondir/Cone PenetrationTest (CPT) dan Vane Shear Test (VST). Lokasi dan lalu lintas Beberapa pertimbangan terhadap penentuan lokasi didasarkan pada kebutuhan, seperti apakah jembatan harus dibangun di daerah perkotaan, pinggiran kota atau pedesaan. Sedangkan secara umum, fungsi jembatan adalah untuk melayani arus lalu lintas dengan baik. Aspek lalu lintas dalam perencanaan pembangunan jembatan, meliputi kelancaran arus lalu lintas kendaraan dan pedestrian. Sementara, perencanaan yang kurang tepat terhadap kepasitas lalu lintas bisa sangat memengaruhi lebar jembatan. Layout jembatan Layout jembatan bisa ditentukan setelah lokasi pembangunan jembatan telah ditemukan dengan menyesuaikan topografi daerah setempat. Beberapa contoh layout jembatan yang sering dipilih, antara lain perlintasan yang tegak lurus dengan sungai, jurang atau jalan rel.

Jenis layout tersebut lebih banyak dipilih ketimbang perlintasan yang membentuk alinyemen miring dan tentunya telah didasarkan pada aspek teknis dan ekonomi. Struktur tahan gempa Perencanaan pembangunan jembatan juga harus memperhatikan ketahanan konstruksi terhadap gempa yang ditetapkan dalam SNI 2833-2016 dan “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia” tahun 2017. Hal yang harus dipertimbangkan untuk menahan gaya gempa adalah dengan meperhatikan risiko gerakan-gerakan terhadap jembatan, reaksi tanah akibat gempa dan karakteristik reaksi dinamis dari seluruh strukutur.

Jenis layout tersebut lebih banyak dipilih ketimbang perlintasan yang membentuk alinyemen miring dan tentunya telah didasarkan pada aspek teknis dan ekonomi. Struktur tahan gempa Perencanaan pembangunan jembatan juga harus memperhatikan ketahanan konstruksi terhadap gempa yang ditetapkan dalam SNI 2833-2016 dan “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia” tahun 2017. Hal yang harus dipertimbangkan untuk menahan gaya gempa adalah dengan meperhatikan risiko gerakan-gerakan terhadap jembatan, reaksi tanah akibat gempa dan karakteristik reaksi dinamis dari seluruh strukutur.

Dengan demikian dalam pembangun jembatan dibutuhkan perizinan yang sesuai pada bidang tersebut, salah satunya perusahaan konstruksi harus memiliki SBUJK. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui