Proses Sertifikasi Teknik Tambang DISINI ! POP, POM dan POU (Pengawas Operasional Pertama, Madya dan Utama) TRAINING CUMA 3 HARI, via Zoom Online. Buruan DAFTAR 021-2984-7482

Sertifikat Energi Terbarukan Laku Keras, PLN Gaet 6 Perusahaan Jelang KTT G20 Bali

Diterbitkan pada Hari Kamis, 03 November 2022

Sertifikat Energi Terbarukan Laku Keras, PLN Gaet 6 Perusahaan Jelang KTT G20 Bali

Upaya PT PLN (Persero) meluaskan pemanfaatan energi bersih dengan mendorong penggunaan Sertifikat Energi Terbarukan (EBT) atau Renewable Energy Certificate (REC) disambut hangat pasar. Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 di Bali, REC PLN kebanjiran pelanggan dari sektor industri.

Terbaru, PLN bersama enam perusahaan melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli REC dengan total penyediaan setara 18,46 terawatthour (TWh) listrik energi bersih, di sela acara The Energy Transition Day di Nusa Dua, Bali pada Selasa (1/11/2022)

Keenam perusahaan tersebut yakni PT Asahimas Chemical, PT Mitra Murni Perkasa, PT Bumi Suksesindo, PT United Tractors Tbk, PT Indokordsa, dan PT Mitra Informatika Gemilang. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengapresiasi kontribusi para pelanggan PLN yang telah mendukung program transisi energi bersih dengan memanfaatkan REC. Hal ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia sebagai tuan rumah Presidensi G20 untuk menekan emisi karbon dunia.

"Kerja sama yang diteken hari ini juga menjadi bukti bahwa semakin banyak perusahaan yang bergerak ke arah industri hijau dengan mencari sumber energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," kata Darmawan dalam keterangan tertulis, Rabu (2/11/2022).

Darmawan mengakui, hadirnya layanan REC ini mengikuti perkembangan kebutuhan pelanggannya seiring tuntutan global terhadap penggunaan energi baru terbarukan (EBT).

Dahulu, banyak perusahaan harus membeli sertifikat EBT ke luar negeri. Sehingga dengan REC PLN, Darmawan berharap sektor industri bisa lebih mudah mengakses energi bersih.

"REC merupakan fasilitas layanan yang dapat mendukung para pelanggan dalam menunjang bisnisnya yang berkelanjutan. Dengan ini kita bisa bersama-sama dengan pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060," terangnya.

Kemudahan yang PLN hadirkan dalam pemanfaatan REC membuat produk hijau ini semakin diminati pelanggan.

"Melalui REC, PLN menghadirkan opsi pengadaan untuk pemenuhan target sampai dengan 100 persen penggunaan energi terbarukan. Cara pengadaan atau pembeliannya pun relatif mudah dan cepat," tuturnya.

PLN juga memastikan energi yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT yang diverifikasi oleh sistem tracking internasional, APX TIGRs yang berlokasi di California, Amerika Serikat.

Saat ini pembangkit energi hijau milik PLN yang terdaftar di APX adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dengan kapasitas 140 MW, PLTP Lahendong 80 MW dan PLTA Bakaru 130 MW, atau setara 2.500.000 MWh per tahun.

Pelanggan yang lokasinya terpisah dari pembangkit energi hijau tersebut dimungkinkan juga menikmati layanan REC.

Dengan demikian, dalam mencapai Net Zero Emission perusahaan juga dapat berkontribusi bahkan saat ini Sertifikat Energi Terbarukan sangat dicari oleh para perusahaan karena memang memiliki peluang usaha yang besar. Informasi untuk Sertifikat EBT dapat diakses melalui https://www.ijintender.co.id/skt-panas-bumi-ebtke