Proses Sertifikasi Teknik Tambang DISINI ! POP, POM dan POU (Pengawas Operasional Pertama, Madya dan Utama) TRAINING CUMA 3 HARI, via Zoom Online. Buruan DAFTAR 021-2984-7482

Provinsi RI Ini Tiba-tiba Ketiban 'Durian Runtuh', Ada Apa?

Diterbitkan pada Hari Rabu, 09 November 2022

Provinsi RI Ini Tiba-tiba Ketiban 'Durian Runtuh', Ada Apa?

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal III (Q3) 2022, dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Sehingga pertumbuhan ekonomi di beberapa provinsi bak mendapatkan 'durian runtuh'.

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, secara global windfall dari tingginya harga komoditas unggulan di pasar internasional yang terus berlanjut. Itu menyebabkan kinerja ekspor Indonesia tetap mengesankan.

Secara domestik, mobilitas masyarakat yang semakin pulih dan bauran kebijakan dari pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Hal ini mendorong penguatan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat.

"Kenaikan harga komoditas pertambangan memberikan windfall pada perekonomian regional," jelas Margo dalam konferensi pers, seperti dikutip Selasa (8/11/2022)

Margo merinci, di Sumatera Selatan, sumber pertumbuhan dari pertambangan pada Kuartal III-2022 mencapai 0,9%, terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Adapun pertumbuhan PDRB di provinsi ini tumbuh 5,34% jika dibandingkan Kuartal III-2021.

Data BPS menunjukkan sektor pertambangan merupakan sumber pertumbuhan ekonomi ketiga di wilayah Sumatera Selatan, dengan andil 25,88%, setelah sektor perdagangan dan pengolahan. Komoditas utamanya yakni batu bara dan lignit.

Di Kalimantan Timur (Kaltim), sumber pertumbuhan berasal dari pertambangan yang mencapai 1,74% terhadap PDRB provinsi tersebut. Di mana pertumbuhan PDRB di Kaltim mencapai 5,28% (yoy).

"Pertambangan merupakan sektor utama dalam perekonomian wilayah itu dengan andil 55,74%, serta komoditas andalan batubara dan lignit," jelas Margo.

Adapun di Nusa Tenggara Barat (NTB), sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 3,94%, dengan pertumbuhan PDRB yang mencapai 7,1% (yoy). Pertambangan merupakan penyumbang utama dalam perekonomian di wilayah ini dengan andil 19,7%, dengan komoditas andalan tembaga.

Kemudian di Sulawesi Tengah (Sulteng) sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 4,12%. Di mana pertumbuhan PDRB yang mencapai 19,13% (yoy).

Pertambangan merupakan sektor utama dalam perekonomian di Sulteng dengan andil 15,41%. Komoditas andalan adalah bijih logam berupa nikel.

Selanjutnya di Papua, sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 3,51%. Dengan pertumbuhan PDRB Papua mencapai 5,78% (yoy). Pertambangan merupakan penyumbang utama dalam perekonomian wilayah dengan andil 36,14%, dengan komoditas utamanya adalah bijih logam emas.

Margo menjelaskan, sektor pertambangan secara nasional tumbuh 3,22% (yoy) pada Kuartal III-2022, melambat dari Kuartal II-2022 yang sebesar 4,01% (yoy).

Pertumbuhan pertambangan tersebut didorong oleh pertambangan batu bara dan lignit yang tumbuh sebesar 9,41% (yoy).Itu juga didorong adanya peningkatan permintaan dari luar negeri terhadap batu bara, serta kenaikan harga batu bara yang signifikan.

Kemudian pertumbuhan di pertambangan juga didorong oleh subsektor bijih logam yang tumbuh sebesar 9,03% (yoy), disebabkan adanya peningkatan produksi tembaga dan emas di distrik mineral Grasberg, Papua. Selain itu, terdapat pula peningkatan permintaan dari luar negeri terutama untuk komoditas emas dan tembaga.

Dengan adanya peningkatan yg signifikan dari sektor pertambangan membuat peluang besar bagi para perusahaan pertambangan untuk terus melaksanakan kegiatan operasionalnya. Tetapi perlu dipahami kembali bahwa dalam kegiatan pertambangan diperlukan perizinan-perizinan yang membuat kegiatan operasional dapat berjalan dengan semestinya. Salah satu perizinan yang harus dimiliki oleh perusahaan pertambangan yaitu Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP). Informasi lebih lanjut mengenai IUJP dapat diakses melalui https://www.ijintender.co.id/izin-usaha-jasa-pertambangan