Diterbitkan pada Hari Senin, 14 September 2020

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) memproyeksikan kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik pada 2028 akan turun 11,58 juta ton menjadi 141,42 juta ton dari proyeksi sebelumnya sebesar 153 juta ton.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan penurunan ini merupakan dampak dari pandemi Covid-19.

"Dengan kondisi Covid-19, kami perkirakan ada sedikit penurunan (konsumsi) pada 2028 dari 153 juta ton berdasarkan RUPTL 2020-2029 menjadi 141,42 juta ton, terjadi penurunan lebih kurang 10 juta ton," paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Selasa, (25/08/2020).

Sementara untuk kebutuhan batu bara tahun ini diperkirakan sebesar 109 juta ton, pada 2021 diperkirakan naik tipis menjadi sebesar 121 juta ton, dan pada tahun 2022 menjadi 129 juta ton.

Zulkifli mengungkapkan bahwa PLN akan terus memastikan ketersediaan batu bara selama PLTU beroperasi. Selain itu, perusahaan juga harus memastikan batu bara bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau.

"Untuk memastikan ketersediaan batu bara untuk PLTU dengan harga yang terjangkau, jumlah yang memadai dan keberlanjutan terjaga, salah satunya dengan cara memiliki tambang dengan persentase tertentu sesuai spesifikasi yang dibutuhkan," paparnya.

Guna mencapai tujuan tersebut, menurutnya PLN memiliki tiga program, antara lain akuisisi tambang untuk penyediaan batu bara PLTU Mulut Tambang, akuisisi tambang berikut infrastruktur pendukung guna menjamin keamanan pasokan dan efisiensi penyediaan batu bara, serta program kerjasama tambang untuk pemanfaatan batu bara lokal yang dekat dengan PLTU Nangan Raya 1-2.

Dia menyebutkan salah satu pembangkit listrik yang sebagian saham tambang batu baranya dimiliki PLN yaitu PLTU MT Jambi-1 berkapasitas 2x300 MW. Adapun produksi tambang batu bara tersebut saat ini sebesar 2,3 juta ton.

Namun program ini sempat mendapat penolakan dari Anggota Komisi VII DPR RI Willy Midel Yoseph. Ia menyebut jika PLN sibuk di perusahaan batu bara dan memiliki saham di perusahaan batu bara, maka akan membuat perseroan tidak fokus memberikan penerangan pada masyarakat Indonesia.

"PLN punya share saham di perusahaan batu bara. Nah kami lihat PLN ini tidak fokus berikan penerangan pada seluruh masyarakat Indonesia. Tugas ini berat agar Indonesia terang. Ini program harus fokus dan terencana," tutur Willy saat rapat bersama PLN.

Mendapatkan tanggapan seperti itu Zulkifli pun membantah jika kepemilikan saham ini akan membuat PLN tidak fokus. Karena pasokan batu bara dari tambang PLN masih kecil yakni sekitar 5%. Menurutnya, PLN masuk ke tambang ditujukan untuk memastikan pasokan batu bara untuk PLTU di daerah terpencil tetap terjamin ketersediaannya.

"Suplai dari tambang PLN hanya sebagian sangat kecil daripada kebutuhan PLN sekitar 5%. Kami masuk ke sana untuk memastikan PLTU kami di tempat terpencil. Supplier batu bara tidak minat supply kecil ke tempat terpencil," jelasnya. (*)

Bagikan artikel ini ke