Diterbitkan pada Hari Selasa, 14 April 2020

Jakarta, Portonews.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta PT Pertamina (Persero) agar sesegera mungkin membangun kilang baru dan hal ini tentunya menjadi magnet tersendiri bagi perusahaan energi internasional.

Apalagi, kata Jokowi, sudah 43 tahun kilang minyak milik Indonesia belum juga ada yang diperbarui dan belum terlaksananya pembangunan kilang baru. Padahal terlaksananya upgrading dan pembangunan kilang baru dapat meminimalisir ketergantungan impor kebutuhan migas dalam negeri.

Dari sekian banyak perusahaan energi internasional yang tertarik melakukan investasi di Indonesia, terdapat dua nama yang merupakan perusahaan energi besar yakni Litasco SA-Luk Oil dan Energen Global DMCC serta ditambah satu perusahaan nasional dalam bendera Satria Group.

Litasco SA merupakan perusahaan perdagangan dan pemasaran energi internasional eksklusif yang berkantor pusat di Geneva, Switzerland, yang merupakan “trading arm” perusahaan migas Luk Oil asal Rusia serta memiliki afiliasi di Hong Kong, Kazakhstan, Singapura, Belanda, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat serta kantor perwakilan di India dan Rusia.

Sebagai salah satu pemain utama dalam pasar perdagangan minyak Internasional, Litasco SA telah menerapkan manajemen yang profesional dalam menjalankan bisnisnya.

Dengan misi memaksimalkan hasil dan nilai produksi minyak mentah yang diproduksikan oleh Luk Oil (Litasco SA milik 100% Luk Oil). Sedangkan, Energen Global DMCC adalah perusahaan trading dengan Kantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Country Representative Energen, Bayu Kristanto mengatakan, Chairman of the Board for Energen Trading DMCC, Ruggero Maman, telah memiliki pengalaman mumpuni di bidang perminyakan.

Di mana dia berpengalaman dalam perdagangan produk-produk minyak dan gas dengan skala global serta mempunyai Participating Interest di beberapa lapangan minyak di Afrika.

Selama 20 tahun terakhir, Ruggero, kata Bayu, mempunyai pengalaman dalam perdagangan dan pembiayaan migas, serta sebagai Penasihat atau Advisor Migas untuk Menteri Ekonomi dan Pembangunan Kamerun, Menteri Keuangan Yaman, Kementerian Pertahanan Italia, dan Penasihat Perdana Menteri Lebanon.

“Mr Ruggero Maman adalah orang yang sangat berperan dalam penjualan produk minyak ke Yaman dan mempunyai pengalaman pra-pembiayaan produk-produk terkait minyak dan memfasilitasi perjanjian pra-keuangan untuk Balkar Trading, Exxon, dan Nomura Securities,” jelas Bayu Kristanto kepada media di Kantor Satria Grup, Wisma 77, Slipi, Jakarta Barat, (17/03).

 

Ruggero, ungkap Bayu, juga memiliki kompetensi unik dalam pembuatan dan lisensi perusahaan sebagaimana ditunjukkan selama perannya sebagai Wakil Presiden Pemasaran Layanan Jet Timur Tengah.

Sementara itu, partner strategis, Satria Grup adalah perusahaan swasta nasional bereputasi internasional yang didirikan pada tahun 1991 dan merupakan inisiator pembangunan Kilang Balikpapan dengan kapasitas 60 ribu BOPD (barel oil per day), serta terlibat dalam perluasan Kilang Cilacap dan Lapangan gas Asamera (sekarang Conoco Phillips).

Selain itu, pengalaman Satria bukan dalam hitungan tahun, namun sudah belasan tahun beroperasi dalam meningkatkan kompetensi dan mengembangkan organisasi yang responsif dan gesit menjadi strategi kuat Satria menggarap proyek-proyek strategis bangsa.

Satria Grup memiliki lahan di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah yang strategis untuk dibangun kilang minyak baru bekerjasama dengan Litasco SA dan Energen Global DMCC.

Bayu Kristanto menyebut, konsorsium company dunia yang terdiri dari Litasco SA, Energen Global  DMCC dan Satria Group tertarik untuk berpartisipasi dalam investasi pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) milik Pertamina serta pembangunan kilang baru bekerjasama sama dengan Pertamina guna meningkatkan Strategic Petroleum Reserve (SPR), peningkatan ketahanan stock dan pasokan nasional serta mengurangi biaya impor yang harus dikeluarkan oleh Pertamina dan Pemerintah Indonesia.

“Menurut Info yang kami dapatkan dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina telah membatalkan kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan global untuk pengembangan kilang baru (Grasroot Refinery) Bontang Kalimantan Timur. Untuk itu, kami bersedia menjajaki kemungkinan menggantikan posisi mitra Pertamina sebelumnya tersebut,” paparnya.

 

Sejalan Dengan Keinginan Presiden

Keyakinan anggota ketiga konsorsium tersebut untuk membangun kilang baru atau merestrukturisasi kilang-kilang lama sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi yang diutarakan pada saat pelantikan dirinya sebagai Presiden RI.

Presiden Jokowi mengatakan, akibat impor Indonesia yang lebih besar daripada ekspor, berpengaruh dengan energi yaitu bahan modal dan barang baku. Lebih parahnya lagi berkaitan dengan energi ini, defisitnya sudah luar biasa.

“Minyak yang dulunya kita tidak mengimpor sekarang impor. Impor minyak kita sekarang kurang lebih 700-800 ribu barel per hari. Itu juga impor minyak atau pun gas, serta turunan petrokimia. Sehingga hal ini membebani dan menyebabkan defisit anggaran negara,” ungkap Jokowi.

Menurutnya, masalah ini bertahun-tahun tidak diselesaikan. Misalnya gas, sebenarnya dari batu bara bisa disubtitusi menjadi gas dan tidak perlu impor karena Indonesia juga memiliki batu bara yang sangat melimpah.

“Bagi orang-orang yang sering melakukan impor akan saya ingatkan berulang kali, berhati-hatilah kamu. Jangan menghalangi orang untuk mengubah batu bara menjadi gas,” imbuh Jokowi.

Sama seperti impor minyak, sebenarnya lifting produksi minyak dan sumur-sumur dalam negeri masih banyak.

“Lalu kenapa tidak ditingkatkan lagi produksinya karena masih banyak yang sering impor minyak. Avtur juga masih impor padahal Crude Palm Oil (CPO) masih bisa disubstitusikan menjadi avtur. Kenapa masih banyak orang-orang yang suka impor karena keuntungannya besar, sedangkan transformasi ekonomi di negara kita ini berhenti gara-gara hal seperti ini,” terangnya.

Jokowi menyebut jika masalah ini bisa dicarikan solusi dan diselesaikan secara komprehensif maka target dirinya dalam periode sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dalam 3 (tiga) tahun akan terselesaikan.

Bayu melihat kegelisahan dan kejengkelan Kepala Negara tersebut harus menjadi catatan kritis dan introspeksi semua pihak. Karena sekarang Indonesia sangat rawan krisis energi.

Stock jumlahnya relatif kecil dan uang marginal untuk membeli volume crude atau produk kilang harus dirogoh dalam-dalam dengan jumlah banyak.

Tentu saja, kata dia, kita tidak bisa membeli minyak banyak dengan memanfaatkan harga minyak yang rendah seperti kondisi saat ini.

“Lain halnya apabila Indonesia punya kilang baru yang cukup banyak serta stock yang cukup. Dengan begitu pembangunan kilang baru sangat urgent, salain dapat memanfaatkan pada saat harga minyak rendah juga untuk ketahanan stock nasional,” ungkap Bayu.

Bayu yang sebelumnya pernah berkarir di BUMN migas ini mengatakan, konsorsium berkeinginan membangun kilang di Indonesia, secara otomatis ikut serta meningkatkan SPR Indonesia.

Reposted by : Salma, 14/4/20